Sabtu, 26 Oktober 2013

Sejarah Makanan Khas Solo : Selat



Selat adalah makanan khas solo yang merupakan buah dari penjajahan Belanda di bumi Surakarta.
Sejak benteng Vastenburg dibangun, tepat di depan keraton surakarta, sering terjadi pertemuan dan rapat antara pihak keraton dan pihak Belanda. Dalam setiap pertemuan itu, pasti disediakan makanan. Nah, disitulah selera Belanda dan keraton tidak pernah ketemu.


Jendral Belanda inginnya makan steak. Sedangkan makanan yang isinya daging semua itu tidak cocok dengan selera raja yang masih suka nasi dan sayur. Saat orang belanda ingin makan sayur, mereka mintanya salad. Sedangkan raja tidak suka mayonaise yang penuh lemak itu. Disinilah keahlian dapur istana diuji. Demi memenuhi selera Raja dan petinggi Belanda, koki dapur istana menggabungkan kedua makanan tadi dengan bumbu-bumbu dan komposisi lokal.

Steak, biasanya berisi daging sapi potongan besar dan beberap potong kentang goreng. Karena Raja tidak biasa makan daging sebanyak itu, porsi daging dikurangi, seimbang dengan porsi kentang. Daging tidak lagi dilumuri saus, tapi disiram kuah kecap asin, asem, manis, semacam kuah empek-empek yang lebih akrab di lidah orang Indonesia.
Hanya makan daging dan kentang  tentunya tidak sehat dan tidak lengkap, harus ditambah sayur. Lalu dimasukkanlah komponen salad yang terdiri dari selada, tomat, timun, buncis dan wortel. Karena raja tidak suka mayonaise belanda yang penuh lemak trans, dibuatlah saus mayonaise  dari kentang.
Makanan baru ini terus dimodifikasi. Timun tidak lagi dimasukkan begitu saja sebagai komponen salad, tapi diasinkan dulu, atau dibuat acar. Penambahan acar timun ternyata membuat masakan semakin segar.

Makanan baru ini sangat disukai oleh pihak Belanda. Merekapun memperkerjakan orang-orang pribumi di markas nya. Masakan baru ini belum memiliki nama resmi. Tapi orang belanda menyebutnya Salad jawa. Meski ada komponen steak atau daging didalamnya, tapi tidak mendominasi sehingga tidak layak disebut steak. Menurut mereka lebih cocok sebagai salad yang ditambah daging panggang.

Seiring perkembangan zaman, koki dari dapur markas Belanda membawa resep salad jawa ke masyarakat. Kata Salad bila diucapkan akan terdengar seperti saelad. Kata ini diucapkan mulut ke mulut lewat lidah Indonesia, diterjemahkan dalam tulisan aksara jawa, dan seiring perkembangan zaman diterjemahkan lagi dalam huruf alfabet. Jadilah Selat seperti sekarang ini. Seiring perkembangan selat  sebagai makanan pribumi, porsi daging semakin dikurangi supaya lebih hemat sebagai gantinya, ditambah telur resbus yang lebih murah.


Pertama kali dengar selat saya merasa aneh ada makanan namanya selat dari Solo. Padahal solo jauh dari selat sunda atau selat madura. Solo tidak berbatasan dengan laut. Ternyata, begitulah asal muasal Selat, makanan khas Solo.

Perlu diketahui, cerita diatas hanya fiktif belaka, yang tiba-tiba terpikirkan begitu saya ambil foto selat diatas ..

Gambar selat di atas adalah selat mbak Lis yang katanya paling enak di Solo. Terletak di jalan ahmad yani, daerah serengan. Saya sih belum pernah nyoba semua selat yang ada di Solo.. :)

4 komentar:

  1. Kirain sejarah beneran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sudah berkunjung :)
      sorry ya bukan ahli sejarah, ahli mengarang hehehe..

      Hapus
  2. alaahhh, makanan nya menggoda gitu

    http://www.marketingkita.com/2017/08/wilayah-pemasaran-dalam-ilmu-marketing.html

    BalasHapus